Posted in Cerita dari Inggris

MENJADI MUSLIM DI INGGRIS (4) : SALAM PENGERAT CINTA

Langkahku mendadak kaku, bibirku-pun kelu. Aku terpaku melihat seorang polisi bertubuh tegap, berpakaian lengkap mendekatiku. “Salahkah aku? Mengapa ia menuju ke arahku?”.

Saat itu di Easton Road, syurga belanja bagi kaum muslim karena disanalah pusat pertokoan muslim yang menjual berbagai macam keperluan, mulai dari pakaian muslim, sayuran, hingga daging halal. Aku bersandar pada sebuah tembok dengan meletakkan sejanak 4 plastik besar belanjaanku, untuk keperluan memasak 2-4 minggu kedepan. Aku mencoba menerka kesalahan apa yang telah kuperbuat. Sosok tinggi yang sepertinya warga keturunan karena kulitnya tidak seterang kulit warga local kebanyakan itu semakin dekat denganku. Sudah terlalu lambat bagitu ‘untuk berlari, atau setidaknya berjalan cepat menjauh darinya. Ia semakin dekat… dekat… dan…

“Assalamualaikum,” sapanya.

Mulutku menganga. Polisi itu.. apakah ia barusaja mengucapkan salam padaku?

“Assalamualaikum, sister.” Ia mengulang ucapannya.

Aku masih belum mampu mencerna apa yang terjadi, hingga saat kutersadar, sosok itu menyunggingkan sebuah senyuman. Ia menyadari keterkejutanku.

“Kenapa kamu terlihat takut? Jangan takut. Aku mendekat hanya untuk menyapamu, sekadar mengucap salam untuk saudariku sesama muslim, Aku juga seorang muslim,” jelasnya sebelum aku bertanya. Logat Britihnya begitu kental. Logat khas daerah Newcastle, salah satu kota di Inggris yang sudah berada begitu dekat dengan Skotlandia.

Screenshot_2017-05-12-17-57-21-1
(Photo credit : @sichan.he . Inilah mounted police, polisi Inggris yang berpatroli keliling kota dengan menaiki kuda. Foto ini di Park Street Bristol, jalan yang selalu kulalui saat ke kampus atau pulang dari kampus. Dan bangunan tinggi di belakang yang begitu megah itu adalah Wills Memorial Building, salah satu bangunan di kampusku yang membawahi Faculty of Law and Faculty of Earth Science (ilmu bumi)

______________________
Salam pengerat cinta, aku menyebutnya. Salam yang sering kuterima dari saudara sesama muslim dari seluruh belahan dunia yang berada di kota ini. Salam yang hampir setiap hari kudengar saat aku melalui Park Street untuk menuju ke fakultasku, Graduate School of Education di Barkeley Square. Seperti sapaan yang lagi-lagi kuterima pagi itu.

“Assalamualaikum,” sapanya, membuat langkah kaki ini melambat. Selama beberapa detik, aku sempat terdiam menatap wajahnya lantaran aku memang sedikit terhenyak. Lalu menjawab salamnya dan membalas senyumnya. Sosok yang sepertinya berasal dari Pakistan itu sama sekali tidak kukenal. Kami hanya tidak sengaja berpapasan di Park Street saat hendak menuju kampus. Ia mengucap salam,tersenyum, lalu berlalu. Sudah, begitu saja.

Di lain hari, saat tengah berada di halte bus,tiba-tiba ada bus (bukan bus yang akan kunaiki) berhenti. Saat semua penumpang sudah naik, supir bus yang sepertinya berasal dari daerah Afrika itu tetiba melambaikan tangan padaku sambil mengucapkan salam “Assalamualaikum” sebelum kemudian menjalankan busnya.

Saat aku berjualan kue untuk Charity, seorang lelaki berambut pirang dan berkumis tipis-pun tetiba mengucapkan salam “Assalamualaikum” sembari menyodorkan uang untuk membayar kue yang diambilnya. Belum lagi di jalan, di City Centre, di kampus, di bebagai tempat, banyak muslim/muslimah yang sering menyapa mengucapkan salam.

Bagiku, ini merupakan hal yang sangat indah. Awal menginjakkan kaki di negara ini, aku memang sangat jarang mendahului untuk mengucapkan salam saat berpapasan dengan muslim disini. Paling hanya melontarkan senyuman, sebab di Indonesia memang aku jarang melakukannya dan jarang menjumpai yang demikian : dimanapun dan kapanpun, sesama muslim saling sapa dengan salam meski tidak saling kenal. Pun pada awalnya aku sedikit kikuk saat disini tetiba ada orang tak dikenal yang menyapa dengan salam meski aku tetap menjawabnya.

Lambat laun, karena merupakan hal yang lazim bagi muslim disini untuk saling sapa dengan salam meski tidak saling kenal, akupun sekarang spontan akan melakukan hal yang sama saat berpapasan dengan muslim yang lainnya. Memang, aku hanya mendahului mengucap salam saat berpapasan dengan perempuan berhijab (karena hijab yang mereka pakai adalah pertanda bahwa mereka muslim), atau pada teman-teman muslim/muslimah dari berbagai belahan dunia yang lain yang memang kukenal. Karena untuk laki-laki, selain karena tidak semua lelaki muslim memakai ‘simbol’ yang menunjukkan dia islam, aku juga malu untuk menyapa mereka dengan salam duluan.

Bagiku, sapaan salam ini bukan hanya sekadar sapaan basa basi saja, melainkan ada cinta di dalamnya. Sapaan cinta untuk memberitahukan bahwa “aku saudaramu”. Sapaan yang mampu mempererat hubungan saudara seiman meski berasal dari suku dan bangsa yang berbeda. Sapaan yang betul betul mampu menumbuhkan perasaan membuncah di dada lantaran menemukan saudara yang bersujud padaNya dengan cara yang sama, apalagi ketika sedang berada di sebuah negara ribuan kilometer jauhnya dari bumi pertiwi tercinta, ketika berada di sebuah negara dimana muslim adalah kaum minoritas saja.

_____________________
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali.” (HR. Bukhari no. 6236)
__________________

Apakah hanya saudara seiman sesama muslim saja yang perlu disapa? Tentu saja tidak. Sapalah juga yang lainnya meski hanya dengan seutas senyuman. Sebab adakalanya sebuah sapaan sederhana mampu membawa dampak luar biasa. Ingat kisahku dengan penjual Big Issue yang tak pernah tersenyum padaku, yang selalu bermuka masam dan bahkan menghibdariku yang akhirnya menjadi begitu ramah karena setiap hari aku menyapanya? Ah, tiba-tiba sapaan manis masyarakat Yorkshire yang selalu menambahkan sapaan “love” saat menyapa orang lain kembali terngiang :

“Good morning, Love” ❤

Jadi, sudahkah engkau menyapa saudaramu? ❤

Advertisements
Posted in Cerita dari Inggris

Pesan Cinta Dalam Sebungkus Nasi Goreng

Entah siapa namanya. Seorang lelaki berkulit agak gelap (yang kutaksir usianya sudah 50-an) yang menjual majalah Big Issue di depan St. Mark’s Church, Lord Mayor’s Chappel. Sebuah gereja kuno yang dibangun pada tahun 1230. Hampir setiap hari aku melaluinya saat akan menuju ke kampus karena Chantry Court, tempatku tinggalku berada tepat di belakang Gereja St. Marks.

Lelaki yg selalu menggunakan topi dan rompi merah bertuliskan ‘Big Issue Seller’ itu tak pernah tersenyum padaku. Padahal setiap melewatinya, aku selalu menyapanya. Aku memang sosok yang sociable. Aku sering menyapa orang-orang. Bahkan penjual bunga di depan cafe Browns di Queens Road, petugas kebersihan yang membersihkan sampah dan memotong rumput Royal Fort gardens, satpam di Graduate School of Education, bahkan penjual Big Issue lain seperti Jack yang ‘mangkal‘ di Park Street dan Jeff, lelaki super ramah asli Jamaica yang ‘mangkal‘ di sekitaran Bank Natwest Queens Road saja sampai mengenalku karena aku selalu menyapa mereka.

Tapi lelaki ini, ia terus memalingkan muka. Padahal dengan yg lainnya, ia cukup ramah. Bahkan ia akan menyingkir saat aku kebetulan berjalan cukup dekat dengan tempatnya berdiri. Entah apa alasannya. Apakah karena jilbabku? Apakah karena aku seorang muslim? Entahlah. Yang pasti aku sedih. Namun meski begitu, aku terus menyapanya, setiapkali aku melewatinya. Berharap suatu saat ia akan membalas sapaanku dan tersenyum padaku.

15676445_10208261309439598_387376398778263824_o
St. Mark’s Church, Lord Mayor’s Chappel dilihat dari jendela dapur flat-ku di lantai 4.

Hingga pada suatu hari….

Siang itu aku bersiap menuju ke Beacon Study House, area tempat belajar milik kampus yang menjadi tempatku mengerjakan disertasi untuk meraih gelar S2 ku. Tapi aku berencana untuk mampir ke Walk to Walk dulu, sebuah restoran Asia halal dengan menu khas nasi goreng dan mie goreng, membeli makanan, lalu makan di taman College Green sebentar. Yup, karena aku memang belum sarapan. Aku tidak sempat memasak karena semalam, aku baru pulang dari Beacon House pukul 10 malam. Lanjut mengerjakan disertasi lagi hingga Subuh tiba. Selepas Subuh, aku baru bisa beristirahat.

Aku memesan menu favoritku : nasi goreng yang terdiri dari Jasmine rice, chicken breast, dan hot Asia (bumbu nasi goreng khas Asia. Sebetulnya ada bumbu lainnya, bahkan bumbu Bali juga ada).

Sayang, pesananku salah. Mereka memberiku duck breast alias daging bebek yang aku tidak bisa memakannya dan malangnya, aku baru tahu itu ketika aku sudah sampai di College Green. Dengan sedikit kesal (kesal pada diri sendiri kenapa aku tidak memeriksanya dahulu sebelum pergi), aku kembali menyusuri Park Street untuk menuju ke Wok to Walk lagi meminta ganti. Pelayan menerima dengan ramah. Meminta maaf dan akan segera menggantinya dgn aku tidak perlu membayar lagi. Namun pesanan yg salah tadi harus dikembalikan.

Aku hampir saja menyerahkan pesanan yg salah itu, namun entah mengapa tiba-tiba saja aku teringat pada lelaki penjual Big Issue yang selalu bermuka masam ketika melihatku. Saat aku kembali ke Wok to Walk tadi, aku melihatnya terduduk lesu. Ia terus menerus mengusap dahinya.

Bagaimana jika ia belum makan siang?” batinku.

Hingga akhirnya aku mengurungkan niat mengembalikan pesanan yang salah itu. Aku akan memberikannya pada lelaki yang tidak suka padaku itu. Dan aku memilih untuk membeli pesanan baru untukku sendiri. Kali ini aku pastikan betul-betul kalau mereka tidak salah lagi.

Sedikit gugup, aku mendekati lelaki itu.

Hi,” sapaku. Seperti biasa, ia melengos. Kali ini kuberanikan diri mendekatinya.

“Have you had your lunch?” tanyaku. Ia tetap memalingkan wajahnya, hingga aku mengulangi pertanyaanku dgn suara sedikit lebih keras.

Lelaki itu menggeleng.

Aku tersenyum, sambil menyodorkan plastik berisi nasi goreng dengan daging bebek itu kepadanya.

“This is for you. I know you haven’t had your lunch.”

Lelaki itu menatapku. Selama beberapa detik, ia terdiam.

For… for me?’ tanyanya sambil beranjak berdiri dari tempatnya.

Ya Tuhan! Aku tak percaya. Lelaki yang membenciku itu mengucapkan beberapa kata padaku. Aku mengangguk.

“Yes. Take this and enjoy your lunch,” kataku sambil menyerahkan plastik itu.

“Are you sure this is for me? For lunch?” katanya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Yes, it’s for you. And this is for you too, to accompany your lunch”, kataku sambil menyerahkan sebotol air mineral.

Lelaki itu menerima pemberianku. Tapi kemudian ia terduduk. Ia menunduk.

Hey, are you okay?” tanyaku. Ia masih saja tertunduk hingga aku kembali harus mengulangi pertanyaanku.

Lelaki itu kini menatapku, dan aku begitu terkejut melihatnya. Lelaki itu menangis! Wajahnya dipenuhi airmata!

“Are you okay? Did I do something wrong?” tanyaku.

“Why are you so kind to me?” katanya, sambil menyeka airmatanya.

“I was so mean to you but you give me this food for my lunch,” katanya.

Dan entah mengapa, ada rasa menyeruak dalam dada. Rasanya aku ingin ikut menangis.

“Because everytime I pass this street, I see you teach me what is it to keep struggling for life.” Kami terdiam beberapa saat.

Anyway, enjoy your lunch. I’ve got to go,” kataku kemudian. Berpamitan.

Lelaki itu, sempat aku melihatnya ingin mengucapkan sesuatu. Tapi aku sudah berlalu. Benar, aku memang cepat-cepat berlaku karena aku tak mau ia melihat air mataku. Begitu mendudukkan diri di sebuah kursi taman di College Green sambil menunggu temanku, tangisanku tumpah. Karena dari situ aku bisa menatapnya tengah begitu lahap menyantap makan siangnya. Ia yang meski awalnya selalu memalingkan wajah dariku, yang tak pernah lelah berdiri menjajakan majalahnya. Ia yang rela dari pagi hingga sore menjelma tetap disana meski tak jarang tumpukan majalah yg belum terjual masih sangat banyak. Namun setiap hari ia kembali ke tempat itu. Tanpa lelah, tanpa kata menyerah untuk berhenti, atau memilih menjadi peminta-minta.

IMG_20170308_173346_883
Kursi taman di College Green di sebelah kananku itu menjadi saksi bisu saat aku tergugu, saat tumpah ruah air-mataku.

Ah, kalian pasti sudah tahu bagaimana akhirnya. Benar. Setiapkali aku menyapanya pasca kejadian itu, ia selalu membalas dgn penuh suka cita. Bahkan saat aku belum menyapanya, dari kejauhan sudah terlihat senyumannya untukku.
___________

Bukan, bukan maksudku mengungkit pemberianku padanya. Kisah ini kutuliskan agar sejatinya hal terbaik untuk melunakkan hati orang yang tidak menyukai kita adalah dengan cara tetap berbuat baik padanya 😊

Penjual Big Issue yang aku betul-betul lupa siapa namamu, semoga Tuhan selalu menjagamu 😇

(Bangunan di belakangku di foto cover di atas adalah St. Mark’s Church. Lelaki itu biasanya ada di sana, di balik mobil itu. Sedang pintu seperti pintu gerbang di sebelah kanan yang terlihat sedikit itu adalah pintu lorong untuk menuju Chantry Court, tempat tinggalku).

Ini foto dirinya, duduk dengan rompi merahnya, kuambil dari akun Igers Bristol. Tidak cukup jelas, tapi cukup menggambarkan dimana biasanya ia berada menjajakan majalahnya 🙂

Screenshot_2017-05-08-23-23-30-1

Posted in Di Sekitar Kita

EVERY CHOICE HAS CHALLENGE, SACRIFICE & CONSEQUENT ❤

Arrived at home yesterday at 06.30 PM due to yesterday’s heavy rain. Offering Maghrib prayer, cooking for dinner, having dinner, playing with my Z for a while, washing the clothes (manually without washing machine), taking a bath, planning to iron the clothes after washing but no strenght left, sleeping instead after offering Isya’ prayer. Sleeping like a buffalo until the sun says hello 😄

Yet, there are still plenty of imbeciles who consider working moms as the most sinful moms in the world, labelled them as lawlessness wives : forget their role as a mom and wife.

Listen, love.

Whatever chosen by us : stay at home mom, working mom, student mom or whatever, we all have the so called uneasy CHALLENGE, SACRIFICE, & CONSEQUENT of the choice we take. No one is better than the other, no need to exaggerate one over the other.

So let’s shut our mouth up from criticising others’ choice & just go easy on others for we know nothing of what others have been going through 😊

See that cute girl picture? She is Baby Z who isn’t a baby anymore. Cute, isn’t she? Just so we know that it isn’t an easy task for all moms to leave their babies, even for a short period of time 🙂

Posted in Cerita dari Inggris, Di Sekitar Kita

WOULD YOU GIVE YOUR JACKET?” : ORANG BAIK ITU ADA DIMANA MANA. JADILAH BAGIAN DARI MEREKA 💙

Beberapa hari ini sempat berseliweran di timeline saya, sebuah video semacam social experiment (yang sebetulnya adalah sebuah iklan) berjudul: “Would You Give Your Jacket” dimana seorang anak kecil tanpa jaket tampak kedinginan. Banyak yang peduli padanya, mulai dari orang yang merelakan kaos tangannya, dan bahkan merelakan jaketnya. Membiarkan dirinya sendiri kedinginan demi menolong anak kecil itu. Tak terasa airmata saya menetes melihatnya meski itu hanya sebuah iklan, karena saya kembali teringat apa yang saya alami saat saya mengunjungi kota Sheffield.

💙💙💙

Edensor, Derbyshire, 2016.

Saat itu hujan turun begitu deras. Super deras tidak seperti biasanya. Saya baru sadar kalau saya tidak membawa payung. Padahal saya harus berjalan dari Edensor, menelusuri bukit untuk menuju Chatsworth karena bus yang akan membawa saya kembali ke city centre Sheffield nanti akan stand by disana.

Nekat, saya fungsikan coat sebagai payung. Tapi karena hujan terlalu deras, sayapun tetap basah kuyup, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Belum lagi bonus terpeleset dan jatuh terduduk di perbukitan yang terdapat banyak sekali kotoran domba. Iyuuh……

Saat melintasi Paine’s Bridge, sebuah jembatan yang menghubungkan bukit dengan Chatsworth, tiba-tiba ada mobil berwarna merah yang berlawanan arah berhenti. Seorang lelaki berusia sekitar 60an tahun membuka jendela dan berteriak :

Do you need a lift? (Kamu butuh tumpangan?)” katanya. Saya menolak dengan halus karena saya sudah sangat dekat dengan Chatsworth.

Ah, terharu. Tidak hanya satu mobil itu, tapi baru beberapa langkah berjalan, ada lagi mobil berhenti dan menawarkan tumpangan.

Sesampainya di Chatsworth, bus belum datang. Handphone juga tidak ada signal karena daerah itu memang area pedesaan. Melihat saya kebingungan, seorang perempuan yang dari jaket yang dikenakannya sudah bisa ditebak bahwa dia bekerja menjaga loket untuk masuk Chatsworth house mendekat.

“Are you ok, love?” tanyanya.

Jika di Bristol orang sering menyapa dengan sapaan ‘dear‘, maka orang-orang Sheffield dan sekitarnya di wilayah Yorkshire memang lebih cenderung menggunakan sapaan ‘love‘. Jadi jangan baper ya kalau kalian ke Inggris, lalu orang-orang menyapamu dengan sebutan ‘dear’, ‘love’, ‘darling’, ‘sweety’, ‘sweetheart‘, atau sapaan manis lainnya. Itu hal umum disini. Jadi bukan karena naksir kamu lho ya.

Saya mengatakan padanya kalau saya tidak bisa mengakses handphone untuk melihat jadwal bus ke Sheffield dan……. dia langsung mendatangi teman-temannya untuk mengecek jadwal bus untuk saya!

Sesampainya di Sheffied, tempat yang pertamakali saya cari adalah Primark, sebuah pusat perbelanjaan murah harga mahasiswa mengingat saya sudah basah kuyup dari atas sampai bawah sampai se dalam-dalamnya. Beruntung, banyak reduced discount sehingga saya bisa membeli legging, kaos kaki, baju, jilbab, payung, dan my personal things (you know what I mean) with less than £20. Sayang di Primark sudah tidak ada coat/jaket. Padahal saat itu super dingin.

Sekitar pukul 7 sore ( saat itu disini jam 7 masih sore karena jam 9 malam baru mulai gelap), saya duduk menunggu bus untuk menuju ke Crookes, rumah teman saya di Sheffield tempat saya menginap selama disana.

Ya Allah, tangan rasanya kaku saking dinginnya. Bibir kelu, wajah-pun mendadak biru. Saya menggigil parah. Saya menangis tertahan. Tiba-tiba seorang lelaki berambut pirang yang kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya baru pulang kerja mendekat.

Where are you going, love?” tanyanya.

Crookes,” saya menjawab singkat sambil terus menggigil.

Good. We are going to the same place. You can wear my coat if you want. At least till the bus comes. You are freezing!” katanya, menawarkan jaketnya. Letting himself coat-less just to help me. OMG, I was speechless 😭😭😭

Setiap orang yang datang ke bus stop dimana saya menunggu bus juga selalu mengkhawatirkan keadaan saya dengan menanyakan apakah saya baik-baik saja, apakah saya butuh bantuan mereka. Hingga akhirnya bus datang dan saya selamat sampai rumah.

❤❤❤

Ini hanya salah satu dari sekian banyak cerita tentang keramahan orang yang saya temui. Keramahan yang begitu tulus, tanpa modus. Menyisakan cerita bahwa orang baik itu memang ada dimana mana, dan mari kita jadikan diri kita bagian dari mereka.

Teruslah menanam kebaikan, karena bisa jadi saat kita butuh pertolongan, maka Tuhan akan mengirimkan mereka-mereka yang berhati malaikat sebagai balasan atas segala kebaikan yang kita tanam 😇

Posted in Parenting

PARENTING : NAMANYA JUGA ANAK-ANAK

Pernah melihat orang tua yang cenderung membiarkan ketika anaknya melakukan hal yang tidak baik semacam suka memukul temannya dengan dalih : “Yah, maklumin aja. Namanya juga anak-anak”? Saya pernah. Bahkan sering.

—————————-

Pernah ada anak laki-laki usia TK dari seseorang yang saya kenal yang dulu suka sekali mengambil sandal milik temannya. Saat ada sandal menganggur, dia akan langsung mengambilnya dan dibawanya pulang ke rumah. Jika sandal yang ia inginkan masih dipakai pemiliknya, Ia tak segan untuk merebut paksa sambil memukul, menjambak, atau mendorong temannya yang tidak mau memberikan sandalnya. Bahkan sampai ada anak lain yang sampai trauma, takut luar biasa ketika anak laki-laki ini mulai mendekat lantaran ia pernah menjadi korbannya. Yang dilakukan orang tuanya? Cenderung membiarkan. Bahkan pernah beberapa kali justru ikut mengambilkan sandal anak lain yang diinginkan anaknya tanpa ijin pemiliknya meski nantinya dikembalikan lagi.

Pernah ada seorang laki-laki yang menegur ketika anak ini (yang saat itu bersama neneknya) ketahuan hendak mengambil sandal baru yang diletakkan di depan pintu rumah. Ia meminta agar cucunya dinasehati. Takut jadi kebiasaan sampai ia besar nanti. Lebay? Sama sekali tidak. Karena sayapun berkali- kali memang menemui orang dewasa yang hobi sekali ‘meminjam’ barang milik orang lain tanpa ijin meski nanti ia kembalikan. Mungkin saja ini karena kebiasannya dari kecil. Jadi enteng saja mengambil barang orang lain (terutama yang dikenalnya) tanpa ijin. Namun, bukannya mengingatkan sang cucu bahwa yang dilakukannya salah, sang nenek justru protes pada laki-laki tersebut :

“Mbok ya sudah kasihin aja sandalnya apa susahnya, sih. Namanya juga anak kecil kan biasa ngambil barang orang lain nggak bilang-bilang. Nanti kalau dia udah lupa, aku kembalikan lagi kesini sandalnya.”

Miris, bukan? Padahal ini bukan masalah sandalnya nanti akan dikembalikan, tapi masalah adab untuk meminjam barang milik orang lain. Dalih “namanya juga anak-anak” tentu saja bukanlah hal yang bijak : anak akan berpikir bahwa yang dilakukannya (mengambil barang orang lain tanpa ijin) adalah hal yang wajar. Iapun jadi tidak belajar mengenai hak milik: mana miliknya, mana milik orang lain, dan bagaimana caranya jika ia ingin meminjam barang yang bukan miliknya.

——————-
Salah satu yang saya pelajari dari para orang tua di Inggris adalah mereka tidak pernah memakai dalih “namanya juga anak-anak” untuk memaklumi ‘kekacauan’ yang dilakukan anaknya.

Setelah tenancy saya untuk tinggal di Chantry Court, salah satu akomodasi milik kampus habis, saya tinggal bersama keluarga Chezzy yang merupakan keluarga British. Chezzy memiliki 2 orang anak : Petra (3 tahun) dan Louise (1.5 tahun). Seringkali setelah bermain, Petra dan Louise meninggalkan begitu saja mainannya yang berantakan kemana-mana. Saat itu Michael, adik laki-laki Chezzy datang berkunjung. Melihat rumah berantakan, Michael berinisiatif hendak membereskannya. Namun Chezzy melarangnya. Saya sendiri berkali kali akan membereskan ‘kekacauan’ Petra dan Louise, namun selalu dilarang :

“We save time by tidying up this mess, but we will spend longer time to teach them responsibility as consequence.”

Benar, memang akan menghemat waktu jika kita yang membereskan dan dalam sekejap, rumah kembali enak dipandang. Tapi, anak-anak jadi tidak belajar untuk bertanggung jawab.

———————
Awalnya saya pikir orang Inggris terkesan berlebihan dalam memperlakukan anak seperti orang dewasa. Tapi ya memang begitulah seharusnya.

Saat anak tidak mau berbagi dengan orang lain, kita sering memakluminya dengan dalih : “nggak apa’apa. Namanya juga anak-anak.” Padahal itulah saatnya ada belajar berbagi.

Saat anak berteriak-teriak, membentak-bentak, atau berkata tidak sopan pada yang lebih tua, kita sering memakluminya. Padahal itulah saatnya anak belajar adab berbicara dengan yang lebih tua.

Saat anak berlarian tak terkendali, menyebar makanan, hingga memecahkan barang saat diajak ke tempat ibadah, bertamu atau ketika menghadiri suatu majlis (pengajian misalnya), kita memakluminya dengan alasan yang sama. Padahal itulah saat anak belajar bagaimana adab di dalan tempat ibadah, adab bertamu dan adab di dalam majlis.

Memang, mereka masih anak-anak. Memang, ada hal-hal yang memang kita harus maklumi. Tapi memaklumi bukan berarti mendiamkan, melainkan harus tetap mengarahkan agar kita tidak lagi menganggap hal yang salah sebagai sesatu yang wajar.

Jangan terus kalah dengan dalih “namanya juga masih anak-anak”. Sebab jika kita terus berdalih seperti itu, kita baru akan sadar ketika kita sudah terlambat mengarahkannya. Sebab ternyata mereka sudah bukan anak-anak lagi dan hal salah yang sering kita maklumi sudah terlanjur menjadi kebiasannya 😊

Posted in Cerita dari Inggris

Menjadi Muslim di Inggris (3) : Adzan Yang (Tak) Dirindukan

“…. Kalau sudah tiada, baru terasa…”

Mengambil satu baris lirik di salah satu lagu milik Rhoma Irama, saya rasa lirik ini paling cocok untuk menggambarkan keadaan kita,  bahwa acapkali kita kurang menghargai segala sesuatu tatkala kita bisa dengan mudah mendapatkan atau menemuinya. Namun saat sesuatu itu hilang atau sulit didapatkan, barulah kita benar-benar menyadari betapa berharganya ia. Salah satunya adalah suara adzan.

Selama menempuh pendidikan di negeri Ratu Elizabeth, bisa dibilang saya belum pernah mendengar Adzan yang dikumandangkan secara langsung. Tidak pernah saya temui suara adzan bersahut-sahutan seperti di Indonesia. Sekali memang saya pernah dengar saat mengikuti acara gathering KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) di Ashton Central Mosque di Manchester. Rasanya? Luar biasa.

img_20160608_232725
Ashton Central Mosque, Manchester.

Bahkan tangisan saya mendadak meledak saat berkesempatan untuk mengunjungi Istanbul, Turki. Sama seperti di Indonesia, suara adzan bersahut-sahutan disana. Jangan tanya bagaimana rasanya saat saya akhirnya bisa kembali mendengarkan suara panggilan untuk beribadah kepada-Nya. Sungguh, tidak bisa digambarkan.

Duduk-duduk di taman Masjid Biru Istanbul (saat itu saya sedang tidak shalat), reflek, saya menangis sejadi-jadinya saat mendengar adzan berkumandang, membuat orang-orang menghampiri saya dan menanyakan kenapa saya menangis, apakah saya baik-baik saja. Entahlah, ada yang berbeda, semacam ada panggilan magis yang membuat saya tidak mampu menahan bulir-bulir bening yang terus mengalir, seiring suara adzan yang terus bersahut-sahutan.

img_20160608_232757
Muslim Istanbul dan para pengunjung berbondong menuju Masjid Biru saat Afzan Dhuhur berkumandang.

Wallah, rasanya… sungguh indah, menyusup ke dalam sanubari.

Ketika masih di Indonesia dimana suara adzan bisa didengar 5 kali sehari, seringkali kita kurang menghargainya, hanya menganggapnya sebagai pertanda bahwa waktu shalat telah tiba, layaknya sebuah bel tanda masuk sekolah, tanpa meresapinya, tanpa ingat bahwa itulah panggilan agung bagi seorang hamba untuk segera bersimpuh di hadapan Rabb-nya, sesegera mungkin, tanpa menunda-nunda.

Namun sejak saya tidak pernah lagi mendengatkan suara adzan, saya bisa menangis sejadi-jadinya ketika mendengarnya. Saya betul-betul merindukan suara adzan. Sungguh, kalau sudah tiada, memang baru akan terasa betapa berharganya ia.

Termasuk ketika Ramadhan tiba, dimana adzan menjadi pertanda bahwa kita sudah boleh membatalkan puasa, bahwa kita telah berhasil menjalankan puasa dan inilah saatnya menikmati nikmatnya berbuka. Sedih, sungguh sangat sedih tatkala hanya bisa mendengarkan adzan dari aplikasi smartphone. Bahkan sering saat berbuka puasa, saya sengaja menghidupkan video adzan dari Youtube. Meski hanya dari Youtube, cukup membuat hati saya berdegub kencang, menggelora saat saat mendengarnya. Seolah yang Maha Kuasa berbisik mesra, “berbukalah, engkau layak mendapatkannya, sebab engkau telah berhasil menahan lapar dan dahaga, nafsu dan segala macamnya.”

Jangan biarkan adzan berlalu begitu saja, sebab ia tak hanya sebatas pertanda waktu sholat telah tiba. Ia adalah panggilan cinta dari kekasih hati yang maha luar biasa, agar kita segera bersimpuh di hadap-NYA. Segera, tanpa ditunda, tanpa terkalahkan oleh hal lainnya.

Jangan biarkan adzan yang kita rindukan hanyalah adzan Maghrib ketika Ramadhan saja.

Ya Rabb, maafkan hamba-MU yang sering menganggap panggilan-MU hanya sebagai angin lalu.

Posted in Cerita dari Inggris, My Life Story

Pelajaran Berharga Dari Sebuah Kota Yang Awalnya Tak Pernah Kudengar Namanya

“… Love makes you see a place differently, just as you hold differently an object that belongs to someone you love. If you know one landscape well, you will look at all other landscapes differently. And if you learn to love one place, sometimes you can also learn to love another” (Anne Michaels)

💙💙💙

Tak kenal maka tak sayang, begitu kata orang. Begitulah yang saya rasakan tentang kota ini.

Tidak pernah terbayangkan jika akhirnya saya berkesempatan untuk meneguk ilmu di kota ini, sebuah kota indah yang selama di Indonesia tidak pernah saya dengar. Memang, di telinga orang Indonesia, kota Bristol tak seterkenal Cambridge sang primadona, Oxford kampusnya adek bersuara merdu Maudy Ayunda, London si ibu kota, Manchester dan Liverpool dengan pesonanya sebagai kota bola, atau Birmingham yang semakin hits dikenal di Indonesia pasca menjadi tempat study mbak artis Gita Gutawa. Tapi ternyata di lingkup yang lebih luas, yakni dunia, pesona Bristol jangan ditanya.

Pertama kali menemukan nama Bristol saat masih galau mencari universitas di Inggris dan Skotlandia yang memiliki jurusan TESOL (Teaching English to Speakers of Other Language). Googling, keluarlah nama University of Bristol di antara daftar universitas Inggris lainnya. Namun, saya cuek saja karena memang saya belum pernah mendengar namanya, tidak tahu bahwa universitas ini merupakan top 50 universitas di dunia. Bahkan untuk sekadar meniliknya saja tidak saya lakukan. Memberikan pelajaran bahwa seringkali kita menganggap remeh suatu hal, tapi ternyata hal tersebut adalah hal luar biasa. Menampar kita semua bahwa seringkali keangkuhan dan rasa sok tahu membuat kita begitu mudahnya menyimpulkan sesuatu tanpa melihatnya lebih jauh terlebih dahulu 😭 (ampuni kami ya Rabb 😢)

Tapi kemudian, salah satu teman, merekomendasikannya karena dia diterima disana (meski akhirnya dia memilih University of Groningen, Belanda). Dan jadilah, saya seharian cari tahu tentang kota ini, kota asing yang tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Jika kalian googling ‘University of Bristol’ dan klik images, maka yang akan keluar adalah foto Wills Memorial Building, seperti yang saya dapati saat itu, sebuah bangunan kuno khas Inggris super cantik milik University of Bristol yang membawahi Fakultas Hukum dan Earth Science (Ilmu Bumi). Takjub! Saya kembali googling seperti apa kotanya dan saya langsung klik dengannya. Akhirnya sayapun mendaftar ke universitas ini disamping mendaftar ke beberapa universitas lainnya, dan mantab memutuskan untuk mengambil offer dari universitas ini.

IMG_20170112_102930
Wills Memorial Building, Faculty of Law and Faculty of Earth Science University of Bristol.

Pertama menginjakkan kaki, dan disambut kemegahan St. Marry Redcliffe, saya langsung jatuh cinta. Begitupun saat saya mulai menjelajah di hari-hari awal sebelum perkuliahan dimulai, memasuki langsung area Wills Memorial Building dan merasa seperti murid Hogwarts, menjelajah hamparan hijau The Royal Fort Garden, sebuah taman maha hijau dan luas mirip bukit Teletubbies yang mengelilingi kampus yang ditambah keindahan dan kemegahan gedung Royal Fort House yang membawahi University of Bristol Cabot Institute dan gedung Physics building yang bangunannya mirip istana…

https://fissilmihamida.wordpress.com/2016/06/23/kenalan-sama-university-of-bristol-yuk-❤/

IMG_20161226_141742
Felt like a Hogwart student 😎
IMG_20170104_095757
Physics Building dan area Royal Fort Gardens.

Kota Bristol juga terkenal karena Clifton Suspension Bridge yang membentang di atas sungai Avon. Rasanya belum syah kalau ke Bristol tapi belum ke jembatan iconic ini yang dilengkapi dengan museum di dekat jembatan yang menyimpan sejarah jembatan ini, termasuk foto-foto asli desain jembatan dari semua kontestan baik yang kalah atau yang menang. Gereja dan cathedral dengan arsitektur kuno yang begitu menawan juga layak untuk tak dilewatkan, kastil-kastil lawas namun tetap menarik perhatian, Cabot Tower, sebuah menara mirip istana Rapunzel yang berdiri tegak di Brandon hill yang cukup menguras nafas saat kita naik kesana (tapi lelah itu akan segera hilang ketika sampai atas menara, kita disuguhi pemandangan menakjubkan dari atas sana), harbourside, rumah-rumah pelangi di atas bukit, bukit dan lembah hijau, street art yang didominasi grafiti grafiti cantik yang tak hanya sekadar gambar tapi juga kaya akan pesan sosial, konser-konser musik klasik gratis seperti yang sering dihelat di St. George atau di The Victoria Rooms, Department of Music University of Bristol,… Dan jangan lupa festival balon tahunan di Bristol yang digelar setiap bulan Agustus (the Bristol Baloon Fiesta) yang merupakan festival balon terbesar di Eropa.

https://fissilmihamida.wordpress.com/2016/06/22/bristol-kota-menawan-tempat-asaku-bersemayam-❤/

IMG_20170302_143443_303
Cabot Tower : “Rapunzel… Rapunzel… Lay down your hair.”

Sebagai salah satu kota yang paling rusak selama Perang Dunia II, kota Bristol memiliki bangunan-bangunan saksi sejarah tragedi Perang Dunia II seperti St. Peter Church yang diabadikan menjadi monumen peringatan bagi para korban, lengkap dengan daftar nama korban meninggal. Dimana akan sering ada orang ‘berziarah’ kesana dan meninggakkan bunga tanda duka. Atau Kings weston House, rumah megah yang dialih fungsikan menjadi rumah sakit semasa perang. Layak dikunjungi bagi yang suka napak tilas kejadian bersejarah, seperti saya.

https://fissilmihamida.wordpress.com/2016/08/07/yang-tersisa-dari-perang-dunia-ii-dari-gereja-st-peter-hingga-kisah-bryan-joice/

https://fissilmihamida.wordpress.com/2016/07/03/exploring-the-beauty-of-bristol-kings-weston-house/

 

Oh ya, satu lagi yang special. Meski menggunakan mata uang poundsterling umum seperti kota kota lain di Inggris, tapi Bristol juga memiliki mata uang poundsterling sendiri (Bristol pounds) yang gambar design uang berbeda dengan poundsterling pada umumnya. Tapi jangan khawatir, pounds biasa tetap bisa digunakan 😊

Siapa sangka, kota yang awalnya belum pernah saya dengar namanya ini adalah kota cantik yang akhirnya begitu memikat hati saya, yang mendapatkan anugerah European Green Capital City 2015, 4th most inspiring city in the world 2016 oleh the Inspiring Cities Ranking 2016 setelah Miami, Bruges, dan San Fransisco, dan sekarang oleh Rough Guides dinobatkan menjadi kota ke empat dari top ten cities in the world to visit 2017 setelah Atlanta (USA), Osaka (Jepang), dan Palma (Mallorca). Yang terbaru, kota ini dinobatkan sebagai The Best City to Live in Britain 2017 oleh Sunday Times Best Place to Live Guide. Sebuah fakta mencengangkan dari sebuah kota yang pernah saya remehkan.

Memang, tak ada kota yang sempurna, masing masing kota pasti ada kekurangannya (seperti mahalnya biaya hidup di kota Bristol). Pun masing masing memiliki pilihan sendiri tentang apa yang membuatnya nyaman, termasuk tentang kota pilihan. Tapi bagi saya, saya tidak menyesal memilih kota ini. Kota Bristol memiliki tempat special di hati saya karena disinilah segala perjuangan, cerita, dan pengalaman penuh hikmah saya terukir dengan indahnya. Membuat kedua mata ini semakin terbuka lebar, pikiran ini jadi semakin bisa menerima perbedaan, yang mungkin akan lain ceritanya jika saja saya masih terkungkung di tempurung yang sama 💙

Fissilmi Hamida
Instagram : @fissilmihamida

Posted in Di Sekitar Kita

Toleransi Itu… Seni Menjaga Lidah ❤

Toleransi itu…

Pernah lihat animasi Upin & Ipin? Mereka sepasang anak kembar muslim yang bersahabat dengan teman- teman yang memiliki latar belakang dan kepercayaan berbeda.

Di suatu episode, diceritakan bahwa warga beretnis China di kampung Durian Runtuh menyambut bulan hantu. Berbagai sesajen pun diletakkan di seberang jalan, juga dekat rumah. Ketika Upin- Ipin bertanya kepada Opah apakah benar ini bulan hantu dan apakah hantu itu benar- benar ada, Opah menjawab dengan begitu bijak : “Itulah kepercayaan orang China. Kita harus menghormatinya.” Kak Ros pun mengingatkan Upin Ipin untuk tidak menyentuh buah- buahan sesajen untuk para hantu itu. Semua warga juga patuh membiarkan bangku barisan depan kosong saat menonton Opera China karena menurut warga China, barisan depan khusus untuk para hantu.

Tidak ada nada menertawakan, tidak ada protes nyinyir semacam “masa’ sih hantu doyan buah- buahan”, “Aduh, abad 21 dan kamu masih percaya soal hantu?” atau “lebay banget, sih, hantu aja dikasih tempat duduk khusus.” Mereka semua menghormatinya. Kenapa? Karena mereka tahu, itu bukan ranah mereka. Karena mereka tahu, memang seperti itulah salah satu ajaran dalam kepercayaan warga China.
—————

Toleransi itu…

Karena prayer room alias mushola kampus cukup jauh dari fakultas dan study space tempat biasa saya belajar, saya sering melaksanakan shalat di dalam kelas, di bawah tangga, di sela- sela rak buku perpustakaan, di pojok ruangan, di lobi… Beberapa bertanya apa yang saya lakukan. Namun, sama sekali tidak ada yang nyinyir semacam :

“Tuhanmu lebay banget, sih. Nyuruh sholat aja sampai 5 kali sehari.”

13198521_10206582349546650_709254868575480146_o

Saat saya satu- satunya yang memakai jilbab di kelas dan juga di antara teman-teman ‘nongkrong’ saya, beberapa bertanya kenapa saya harus memakai jilbab. Namun sama sekali tidak ada yang nyinyir semacam : “Duh, kamu tuh harusnya jangan mau dusuruh panas- panasan nutup rambut.”

Begitupun saat saya berpuasa yang saat itu 19 jam lamanya. Tidak ada yang nyinyir semacam : “Kok mau maunya sih, ngejalanin beginian. Ajaran apaan tuh. Nyusahin orng aja suruh puasa 19 jam.” Yang ada justru mereka peduli. Salah satu teman ngotot mengantarkan saya ke prayer room selepas kami mengikuti briefing di rektorat sebelum kami berangkat ke berbagai negara menjalankan amanah sebagai penerima University of Bristol Alumni Foundation Awards. Hanya untuk memastikan saya baik-baik saja karena saya berpuasa. Padahal jarak dari rektorat ke mushola sangat dekat. Pun saat saya dan teman- teman ‘nongkrong’ saya meet up rutin saat weekend untuk refreshing, mereka rela menunggu sampai maghrib tiba (saat itu Maghribnya hampir pukul 10 malam) untuk mulai makan demi menunggu saya berbuka puasa dahulu. Beberapa memang makan lebih dahulu. Tapi itupun setelah saya memaksa karena melihat mereka memang kelaparan dan mereka menjauh dari tempat saya duduk untuk menyantap makanan mereka.

12469541_10154004712890809_4224017287238490295_o

Mereka menghormati yang saya lakukan tanpa mempertanyakannya karena memang begitulah ajaran agama saya yang memang bukan ranah mereka.
——————–

Toleransi adalah…

Saat itu menjelang natal. Kampus dihiasi dengan pohon- pohon natal yang cantik, termasuk di lobi fakultas saya. Beberapa bertanya kenapa beberapa muslim (termasuk saya) tidak mau mengucapkan selamat natal kepada mereka. Sayapun memintamaaf dan menjelaskan alasannya. Tidak ada kalimat nyinyir semacam : “lebay banget, sih kamu. Cuma ngucapin aja kok nggak mau”, karena mereka tahu inilah prinsip yang saya pegang. Sebelum mereka pulang, kami berpelukan sambil saya mendoakan semoga acara mereka lancar dan menyenangkan. Sayapun urung meninggalkan fakultas saat melihat salah satu petugas tampak kerepotan menghias pohon natal. Hiasan berupa kristal salju yang jatuh kembali saya pasang. Bola- bola putih yang miring pun letaknya saya betulkan. Tanpa nyinyir semacam : “ngapain sih repot repot pasang pohon natal segala. Di selurih gedung pula”

“Merry Christmas, young lady!” kata petugas itu setelah semua selesai. Saya hanya menjawab dengan senyuman. Dan sepulangnya dari merayakan natal, salah satu sahabat saya, seorang kristen taat memberikan kado untuk saya berupa kudapan khas dari Yunani yang rasa dan bentuknya mirip kue beras Indonesia.

screenshot_2016-12-23-21-24-23-1
———————-

Toleransi adalah…

Saat suatu malam tetangga depan rumah kami di Jogja yang beragama Katholik beribadah, tidak ada tetangga muslim yang nyinyir semacam : “ngapain sih malam malam kok paduan suara nyanyi- nyanyi”. Si kecil Zia yang berumur 4 tahunpun mengerti dan puas saat saya jawab : “Bude bukannya”nyanyi- nyanyi” itu. Tapi lagi beribadah. Nah, kalau Zia ibadahnya shalat.” Karena kami mengerti, memang begitulah cara tetangga kami beribadah. Begitupula dengan tetangga tetangga katholik dan kristen depan rumah yang lain yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan masjid di kampung kami. Tidak ada kalimat nyinyir semacam : “berisik banget, sih, ganggu orang tidur aja” setiap kali adzan dikumandangkan. Karena mereka tahu, itu bukanlah suara berisik pengganggu tidur seseorang. Melainkan panggilan bagi kaum muslim untuk segera sembahyang.
———————

Toleransi adalah…

Selama di Inggris, hampir setiap hari saya melihat anjing- anjing lucu menggemaskan berkeliaran. Sering ada yang mendekat. Dengan sigap, sayapun menghindar, namun tetap menyapa anjing- anjing lucu itu dari kejauhan. Beberapa bertanya kenapa saya menghindar? Apakah saya takut anjing? Saya jawab tidak, tapi air liur anjing itu najis menurut agama saya sehingga saya menghindarinya. Tidak ada kalimat nyinyir semacam: “lebay banget. Cuma anjing aja sampe segitunya.” Bahkan kemudian melihat jilbab yang saya pakai, mereka langsung siaga saat anjing mereka hendak mendekat. Karena mereka tahu, memang begitulah ajaran agama saya.

Dan foto saya di atas diambil saat tiba- tiba ada anjing kecil berlari kencang mendekati saya dan teman teman saya saat kami sedang berfoto- foto ria di College Green. Laki- laki yang saya tidak tahu namanya ini adalah pemiliknya yang langsung sigap mengejar dan menenangkan anjing mungilnya agar jangan sampai kami tersentuh olehnya 🙂
—————–

Nah, bisa disimpulkan, kan, kalau ternyata toleransi itu erat kaitannya dengan seni menjaga lidah? 😊

Bagi saya, toleransi adalah saat kita menghormati orang lain dengan segala apa yang diyakininya. Saat kita menghormati orang lain melakukan apa-apa yang menjadi kepercayaannya, apa-apa yang menjadi prinsip hidupnya, tanpa menodai lidah kita dengan kalimat nyinyir, tanpa protes mempertanyakan.

Lihatlah, betapa banyak perpecahan, pertikaian yang terjadi lantaran lidah yang begitu licin menyinggung ajaran dari keyakinan orang lain yang sama sekali si pemilik lidah tidak punya kapasitas tentangnya. Seharusnya kita sadar, meski kadang apa yang orang lain percaya itu sama sekali tidak ada dalam keyakinan kita, atau bahkan mungkin berseberangan dengan ajaran atau keyakinan yang kita punya, soal keyakinan dan prinsip hidup masing-masing orang itu memang soal RASA, yang kita tak seharusnya mencampurinya.

Yuk, sama- sama kita jaga lidah kita. Biarkan masing- masing dari kita nyaman dengan keyakinan, kepercayaan, prinsip, dan pegangan hidupnya.

❤ Selamat Hari Toleransi Internasional ❤

(Ditulis pertamakali di facebook saya, 18 November 2016 dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional)

Posted in Parenting

Ajari Ia Mengakui Kesalahan : Berhentilah Mengajarinya Mencari Kambing Hitam

Cup… cup… sudah, jangan menangis. Temboknya nakal ya? Nih udah Bunda pukul temboknya.”

Pernah mengalami hal demikian? Mencoba meredakan tangisan anak dengan menyalahkan hal lain saat anak terjatuh atau terbentur sesuatu?

Memang, hal tersebut to some extents akan cepat membuat anak cepat menghentikan tangisannya, namun apakah itu mendidik? Tidak. Menurut saya, ini adalah parenting yang kurang bijak. Mencari kambing hitam atau sibuk menyalahkan hal/orang lain karena kesalahan/kecerobohan/ketidak hati-hatian yang dilakukan anak, bisa jadi akan membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang tidak bisa disalahkan. Lebih parah, selain tidak bisa disalahkan, mereka akan mencari pembenaran dengan mencari kambing hitam, menyalahkan hal/orang lain atas tindakan mereka sendiri.

“Tidak apa- apa, kan masih kecil.”

Beberapa mungkin akan berkilah demikian. Namun, justru karena mereka masih kecil, inilah saat yang tepat mengajari mereka konsekuensi, apa akibatnya jika mereka tidak hati-hati, misalnya.

Bagaimana ia akan belajar dari kesalahannya jika saat ia kekeuh bermain pintu hingga akhirnya terjepit, pintunya yang disalahkan.

Bagaimana ia akan belajar bertanggung jawab jika saat ia berlarian di dalam rumah dan menabrak tembok, temboklah yang kena hukuman.
————

IMG_20161203_160035

3 Desember 2016.

Jika diperhatikan, ada lebam berwarna kehitaman di dagu Zia. Yup, hari Kamis kemarin ia terjatuh di sekolahnya hingga membuat dagunya biru lebam. Saat saya jemput, saya tanya apa terjadi dengannya (meski sebelumnya, gurunya sudah memberi tahu).

“Aku tadi nggak hati- hati, Bunda. Pakai sandal kebesaran, terus malah loncat-loncat. Padahal jalannya licin habis hujan,” jelasnya, membuat saya tersenyum karena ia mulai bisa mengakui kesalahannya, meski dulu, ia pernah beberapa kali menyalahkan sekitar atas kesalahannya.

Pernahkah menemui orang yang mengumpat-umpat pada tiang saat ia menabrak tiang tersebut karena berjalan sambil memainkan handphone? Yang bahkan anjing yang tidak tahu apa apa ikut disalahkan? Atau Orang yang mengumpat : “mata jangan taruh di dengkul!” pada kita padahal mereka yang menabrak kita? Atau orang yang mengumpat-umpat sendiri saat hampir tergelincir di tangga padahal karena ia sendiri yang sibuk cekikikan bersama temannya sambil menuruni tangga? Sering sekali saya menemuinya. Bisa jadi, ini karena hal sama : terbiasa diajari untuk menyalahkan sekitar atas kesalahan mereka.

Boleh percaya atau tidak, sering sekali saya temui orang Inggris yang mengucapkan “sorry” pada benda mati. Saat menabrak tiang misalnya karena mata terlalu fokus pada layar hp saat berjalan, mereka tidak mengumpat, melainkan reflek berkata “sorry”. Sayapun sampai terbawa hingga saat tak sengaja menabrak meja kelas karena terburu-buru, saya juga berkata “sorry” 😄 Artinya, mereka tidak terbiasa mengkambing hitamkan sekitar atas kesalahan mereka sendiri.

Well, mumpung belum terlambat, yuk ajari anak-anak kita untuk belajar konsekuensi, belajar dari kesalahannya. Berhentilah mengajarinya menyalahkan sekitar atau mencari kambing hitam sebab itu sama saja mendidik mereka untuk menjadi sosok yang tak bisa disalahkan sekaligus hobi menyalahkan 😊

Posted in Parenting

Little Alarm : Belajarlah Darinya, Karena Seringkali Ia Jauh Lebih Dewasa Dari Kita

Pagi tadi si 4 tahun masuk rumah dalam keadaan menangis. Ternyata ia terjatuh. Lutut yang sudah lecet karena terjatuh kemarin siang, kembali terluka.

Sambil menggendongnya, aku bertanya :

Zia nangis pasti karena sakit banget ya, lututnya?Kemarin udah lecet, sekarang lecet lagi.”

Dia menggeleng.

“Terus kenapa Zia nangis?”

Sambil terisak, bibir mungilnya melontarkan jawaban yang membuatku tercengang :

Aku kesel, soalnya pas aku jatuh nggak ada yang nolongin. Malah diketawain. Kalau ada temen susah kan harus ditolong. Nggak boleh diketawain.”

Dan semakin tumpahlah tangisannya hingga karena saking kesalnya, ia menangis cukup lama. Padahal ia anak yang jarang menangis.

Aku memeluknya, menenangkannya sembari mengukir senyuman karena aku menyadari satu hal. Bayi kecilku ternyata sudah besar. Ia sudah bisa merasa kesal atas ketidak-pedulian orang. Ia benci ketika ada yang kesusahan, namun orang lain justru menertawakan. Berbeda dengan beberapa orang dewasa yang justru susah melihat orang senang, dan senang melihat orang kesusahan.

IMG_20160711_020432
__________________________

Di dalam bus umum dari Jogja ke Magelang. Saat bus berhenti di terminal Muntilan, tetiba ia menjadi begitu gusar, duduknya tak tenang. Wajahnya jelas menampakkan kegelisahan.

“Bunda punya uang, nggak?” tanyanya.

“Punya. Kenapa? Zia mau beli apa?”

“Mau beli salaknya mbah itu (sambil jemarinya menunjuk seorang nenek tua dengan pakaian ala kadarnya tanpa sandal di kedua kakinya yang tengah menjajakan salak di dalam bus bagian depan).”

” Oh, iya. Zia kepengen salak ya?”

“Enggak. Aku kasihan sama mbahnya. Kalau mbahnya belum maem gimana? Nanti kalau Bunda beli kan mbahnya jadi bisa beli maem. Terus kalau banyak lagi yang beli, mbahnya bisa beli sandal juga,” jelasnya. Aku tersenyum mendengarnya.

Bund?”, tanyanya lagi.

“Ya?”

“Kok orang-orang jahat ya sama mbah yang jual salak.” Ucapnya. Aku belum berhasil mencerna apa maksudnya.

“Jahat gimana?” tanyaku.

“Kok ditanya mbahnya pada diem aja, sih. Kalau nggak mau beli ya bilang nggak mau. Jangan diem aja. Kasian mbahnya jadi berdiri disitu terus. Kan kalau ditanya orang itu harus lihat ke orangnya. Terus harus jawab,” jelasnya panjang lebar dengan bibir manyun kedepan. Ia sungguh terlihat kesal.

Beberapa pasang mata meliriknya. Mungkin mereka sedikit tertohok dengan perkataan Zia karena mereka begitu acuh pada si nenek tua. Jangankan menolak dengan halus, sekadar menoleh ketika si nenek menawarkan salaknya saja tidak.

Ya Tuhan, bayi mungilku benar-benar sudah besar.

1524765_10201110427392016_1842674280_n
Dulu ia hanya semungil ini ❤

____________________________

Bukan kali ini saja aku mendapatinya bersikap begitu dewasa, bahkan lebih dewasa dari kita.

Pagi itu ia menangis. Ia dipukul temannya. Laki-laki, seumuran. Si anak berkulit putih menggemaskan ini memang sering berbuat demikian (bermain fisik) pada teman-teman sebayanya, hingga neneknya sendiri meminta Zia membalasnya.

Nanti kalau mas A*** mukul lagi, bales aja, Zi. Biar mas A*** kapok.”

Bukan hanya sang nenek, tapi warga sekitar juga sering menyarankan demikian. Ah, akupun pernah sekali menyarankannya untuk membalas saja. Tapi ia tidak pernah mau membalasnya. Tahu apa alasannya?

“Ya kalau aku mbales mas A***, nanti Mas A*** mbales aku lagi. Aku mbales lagi, Mas A*** mbales lagi. Jadi nggak selesai-selesai tengkarnya.”

Kalimat-kalimatnya menyentilku yang seringkali berpikir untuk membalas mereka-mereka yang menyakitiku.
____________________________

Beberapa hari ini Zia sedang suka menonton video 2 anak Ukraina (kira kira 6 atau 7 tahun) berdansa dalam sebuah ajang pencarian bakat.

“Kok Zia suka nonton video ini? Kan dansanya biasa aja,” tanyaku.

Jawabannya kembali menamparku, mengingatkanku bahwa keberanian untuk tampil adalah prestasi yang jauh lebih penting dan layak diapresiasi dibandingkan dengan bagus atau tidaknya gerakan tarian yang ditampilkan :

“Tapi kan hebat, Bund. Nggak malu dansa di panggung di tonton banyak orang.”

________________________

See.

Seringkali memang anak-anak bisa jauh lebih dewasa dari kita. Seringkaki empati dan kepeduliannya jauh lebih besar daripada yang kita punya. Seringkali sikapnya begitu bijaksana, menampar kita kaum dewasa yang seringkali tak bisa melakukannya.

Terimakasih atas pelajarannya, Alzena Zia Avicena, little alarm Bunda tersayang ❤

Fissilmi Hamida
instagram : @fissilmihamida